Beita Akhirat

Pembentukan Orbital Molekul HCl Berdasarkan Teori Orbital Molekul

Untuk menggambarkan ikatan kovalen dan struktur elektron dari molekul banyak teori yang digunakan diantaranya teori lewis. Namu teori lewis tentang ikatan kimia ini tidak secara jelas menerangkan terjadinya ikatan kimia. Mengaitkan pembentukan ikatan kovalen dengan berpasangan elektron merupakan satu langkah yang benar, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan hal yang dimaksud. Sebagai contoh, teori lewis menggambarkan ikatan tunggal antar atom H dalam H2 dan antar atom F dalam F2 dengan cara yang pada dasarnya sama sebagai perpasangan dua elektron. Tetapi kedua molekul ini memiliki energy ikatan dan panjang ikatan yang cukup berbeda (436,4 kJ/mol dan 74 pm untuk H2 dan 150,6 kJ/mol dan 142 pm pun untuk F2). Hal ini dan berbagai fakta lainnya tidak dapat dijelaskan oleh teori lewis. Untuk penjelasan yang lebih lengkap tentang pembentukan ikatan kimia, kita menggunakan mekanika kunatum. Pada kenyataannya, kajian mekanika kuantum tentang ikatan kimia juga menyediakan cara untuk memahami geometri molekul.
Pada saat ini, dua teori mekanika kuantum digunakan untuk menggambarkan pembentukan ikatan kovalen dan struktur elektron dari molekul yaitu teori ikatan valensi dan teori orbital molekul. Teori ikatan valensi mengasumsikan bahwa elektron-elektron dalam molekul menempati orbital-orbital ato dari masing-masing atom. Ini memungkinkan kita mempertahankan gambaran masing-masing atom yang mengambil peranan dalam pembentukan ikatan. Teori ini menjelaskan paling tidak secara kualitatif, kestabilan ikatan kovalen sebagai akibat tumpang tindih orbital-orbitl atom. Dengan menggunakan konsep hibridisasi, teori ikatan valensi dapat menjelaskan geometri molekul yang diramalkan oleh model TPEKV (tolakan pasangan elektron kulit valensi atau VSEPR).  Tetapi asumsi bahwa elektron-elektron dalam suatu molekul menempati orbital-orbital atom pada masing-masing atom hanya dapat berupa hampiran, karena setiap elektron ikatan dalam suatu molekul harus berada dalam suatu orbital yang mencirikan molekul secara keseluruhan (chang,2005). Dalam beberapa kasus, teori ikatan valensi tidak dapat menjelaskan sifat-sifat molekul yang teramati secara memuaskan. Perhatikan molekul oksigen, yang struktur lewisnya adalah:

Menurut gambaran ini, semua elektron pada O2 berpasangan dan molekulnya seharusnya bersifat diamagnetic. Tetapi hasil percobaan menunjukkan bahwa molekul oksigen bersifat paramagnetik (lischer, 2009). Namun, sifat paramagnetik oksigen ini dapat dijelaskan oleh teori yang kedua yaitu teori orbital moleul (OM). Pada tahun 1929, metode orbital molekul kombinasi linear orbital atom (Bahasa Inggris: linear combination of atomic orbitals molecular orbital method), disingkat LCAO, diperkenalkan oleh Sir John Lennard-Jones. Hasil kerja Friedrich Hund, Robert Mulliken, dan Gerhard Herzberg menunjukkan bahwa teori orbital molekul memberikan deskripsi yang lebih tepat pada spektrokopi, ionisasi, dan sifat-sifat magnetik molekul  (Wikipedia, 2010). Teori orbital molekul mengasumsikan bahwa pembentukan orbital molekul dari orbital-orbital atom. 

1.1.   Teori ikatan valensi
Teori ikatan valensi yaitu teori mengenai asal usul kekuatan, jumlah, dan susunan tiga dimensi ikatan kimia di antara atom (Atkins : 413). Teori ikatan valensi mengasumsikan bahwa sebuah ikatan kimia terbentuk ketika dua valensi elektron bekerja dan menjaga dua inti atom bersama oleh karena efek penurunan energi sistem, teori ini berlaku dengan baik pada molekul diatomik. Pada teori ikatan valensi ini, elektron-elektron dalam molekul menempati orbital-orbital atom dari masing-masing atom. Berdasarkan hasil kerja Lewis dan teori valensi ikatan Heitler dan London, dia mewakilkan enam aturan pada ikatan elektron berpasangan:
1. Ikatan elektron berpasangan terbentuk melalui interaksi elektron tak-berpasangan pada masing-masing atom.
2. Spin-spin elektron haruslah saling berlawanan.
3. Seketika dipasangkan, dua elektron tidak bisa berpartisipasi lagi pada ikatan lainnya.
4. Pertukaran elektron pada ikatan hanya melibatkan satu persamaan gelombang untuk setiap atom.
5. Elektron-elektron yang tersedia pada aras energi yang paling rendah akan membentuk ikatan-ikatan yang paling kuat.
6. Dari dua orbital pada sebuah atom, salah satu yang dapat bertumpang tindih paling banyaklah yang akan membentuk ikatan paling kuat, dan ikatan ini akan cenderung berada pada arah orbital yang terkonsentrasi.

Untuk mempermudah penjelasan mengenai teori ikatan valensi ini, akan diambil contoh mengenai pembentukan molekul H2 dari atom H. Dalam teori Lewis, digambarkan ikatan H-H dengan perpasangan dua elektron pada atom-atom H. Dalam kerangka teori ikatan valensi, ikatan kovaln H-H dibentuk melalui daerah dalam ruang yang digunakan bersama oleh kedua orbital 1s dalam atom-atom H, yang dalam konsep ini disebut tumpang tindih elektron.




Gambar 1. Pembentukan H2 menurut teori ikatan valensi

Apa yang terjadi ketika kedua atom H dalam gambar 1 saling mendekat dan membentuk ikatan dapat dijelaskan sebagai berikut. Awalnya ketika kedua atom saling berjauhan, tidak ada interaksi yang terjadi. Dapat dikatakan ketika itu, energi potensialnya nol. Namun, ketika masing-masing atom saling mendekat, setiap elektron ditarik oleh inti atom yang lain; pada saat yang sama kedua atom saling tolak menolak, dan begitu juga dengan kedua intinya. Selama kedua atom masih terpisah, gaya tarik menarik lebih kuat dibandingkan dengan gaya tolak menolak, sehingga energi potensial turun menjadi negatif ketika atom-atom saling mendekat. Kecenderungan ini terus berlanjut hingga energi potensial mencapai titik minimum. Pada titik ini, ketika sistem memiliki energi potensial terendah. Sistem tersebut mencapai kondisi paling stabil. Kondisi ini berkaitan dengan tumpang tindih yang baik antar orbital 1s dan pembentukan H2 yang stabil. Sebagai akibat dari penurunan energi potensial sistem, maka menurut hukum kekekalan energi, sejumlah kalor akan dilepaskan, sehingga reaksi akan berupa eksoterm (lischera, 2009).
Teori Orbital Molekul
            Seperti yang telah dijelaskan pada pendahuluan bahwa  memberikan deskripsi yang lebih tepat pada spektrokopi, ionisasi, dan sifat-sifat magnetik molekul  (Wikipedia, 2010). Teori orbital molekul (OM) menggambarkan ikatan kovalen melalui istilah orbital molekul yang dihasilkan dari interaksi orbital-orbital atom dari atom-atom yang berikatan dan yang terkait dengan molekul secara keseluruhan (lischerb, 2009). Konstruksi orbital molekul dari orbital atom, ibagian dalam pembentukan molekul. Separuh dari orbital molekul mempunyai energi yang lebih besar daripada energi orbital atom. Orbital yang dibentuk yaitu orbital molekul pengikatan (bonding) dan orbital molekul antiikatan (anti bonding). Elektron yang tidak mengambil bagian dalam pengikatan disebut elektron tidak berikatan (nonbonding) dan mempunyai energy yang sama dengan energy yang dimiliki atom-atom yang terpisah. Energi –energi relatif dari setiap jenis orbital secara umum terlihat pada gambar 2 berikut ini (Dogra, 1990):


Gambar 2. Kombinasi orbital atom yang membentuk orbital atom

Orbital atom yang mengambil bagian dalam pembentukan orbital molekul harus memenuhi persyaratan sebgai berikut:
1.      Orbital atom yang membentuk orbital molekulm harus mempunyai energi yang dapat dibandingkan.
2.      Fungsi gelombang dari masing-masing orbital atom harus bertumpang tindih dalam ruangan sebanyak mungkin..
3.      Fungsi gelombang orbital atom harus mempunyai simetri yang relatif sama dengan sumbu molekul.
Yang paling umum membentuk orbital molekul adalah σ (sigma) dan orbital π (pi). Orbital sigma simetris disekitar sumbu antarnuklir. Penampang tegak lurus terhadap sumbu nuklir (biasanya sumbu x) memberikan suatu bentuk elips. Ini terbentuk dari orbital s maupun dari p dan orbital d yang mempunyai telinga sepanjang sumbu antar nuklir. Orbital π terbentuk ketika orbital p pada setiap atom mengarah tegak lurus terhadap sumbu antarnuklir. Daerah tumpang tindih ada di atas dan di bawah sumbu ikatan (lihat gambar 3).


 
Gambar 3. Bentuk orbital molekul yang terbentuk dari orbital atom
  
Pembahasan Mengenai Diagram Korelasi Orbital Molekul HCl

            Molekul HCl merupakan molekul heteronuklir, dimana kedua atom berasal dari unsur yang berbeda. Atom Cl memiliki nomor atom 17 dengan konfigurasi elektron: 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5, sedangkan atom H memiliki nomor atom 1 dengan konfigurasi elektron: 1s1. Atom Cl lebih elektronegatif daripada atom H. Diagram korelasi orbital molekul menunjukkan bahwa tingkat-tingkat energi dari atom Cl yang  lebih elektronegatif bergeser ke arah bawah, karena atom Cl menarik elektron-elektron valensi lebih kuat dari pada atom H. Seperti gambar 4 diagram korelasi orbital molekul HCl.


 

Gambar 4. Diagram korelasi orbital molekul HCl


      Orbital-orbital atom bercampur secara signifikan membentuk orbital molekul hanya jika energi orbital-orbital ini cukup berdekatan dan mempunyai simetri yang benar. Pada molekul HCl, orbital 1s dari atom Cl energinya terlalu rendah untuk bisa bercampur dengan orbital 1s dari atom H. Hal yang sama juga terjadi untuk orbital 2s atom Cl. Berdasarkan teori hibridisasi sebelum atom Cl berikatan dengan atom H membentuk molekul maka akan terjadi hibridisasi orbital atau pencampuran orbital atom Cl. Pada atom Cl dapat dilihat bahwa orbital 3s bercampur dengan orbital 3p (karena berada dalam satu kulit) sebelum membentuk orbital molekul. Hal ini dikarenakan  semua elektron pada kulit terluar memiliki kesempatan yang sama untuk berikatan dengan elektron pada atom H, sehingga terjadi pencampuran orbital 3s dan 3p pada atom Cl.
            Interaksi antara 3s pada atom Cl membentuk ikatan sigma, biasanya apabila terjadi interaksi membentuk ikatan maka akan terbentuk 2 orbital yaitu orbital σ dan σ*. Namun, karena orbital ikatan 4sb lebih rendah energinya dari nonbonding maka tidak terbentuk ikatan anti sigma (σ*). Tumpang tindih total dari orbital 1s hidrogen dengan orbital 3Px atau 3Py (terletak di atas 5sb pada gambar 4) atom Cl adalah nol, sebab fasa positif dan negatif dari fungsi gelombang gabungan bila dijumlahkan menjadi nol.  Atom Cl hanya meninggalkan orbital 3Pz (4sb), yang bergabung dengan orbital 1s hidrogen menghasilkan orbital σ dan σ*.
            Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa orbital 3Px (2πnb), dan 3Py(2πnb) dari klor tidak bercampur dengan orbital 1s dari hidrogen dan dengan demikian tetap berada dalam keadaan atomic (nonpengikatan). Elektron-elektron dalam orbital ini tidak berkontribusi secara signifkan dalam pengikatan kimia. Karena klor lebih elektronegatif daripada hidrogen, energi orbital 3p nya terletak dibawah energi orbital 1s dari hidrogen. Bila kedelapan elektron valensi digunakan untuk HCl, maka konfigurasi orbital molekul yang dihasilkan adalah:

(3sCl)2 (σ)2 (3pCl)4

            Orde ikatan totalnya adalah 1 sebab elektron-elektron dalam orbital atom nonpengikatan tidak mempengaruhi orde ikatan. elektron-elektron dalam orbital σ akan lebih cenderung ditemukan dekat dengan atom klorin daripada didekat atom hidrogen, dan dengan demikian HCl memiliki momen dipol Hδ+Cl δ-.

Kesimpulan
            Tingkat-tingkat energi dari atom Cl yang  lebih elektronegatif bergeser ke arah bawah, karena atom Cl menarik elektron-elektron valensi lebih kuat dari pada atom H. Pada molekul HCl, orbital 1s, 2s dari atom Cl energinya terlalu rendah untuk bisa bercampur dengan orbital 1s dari atom H. sebelum atom Cl berikatan dengan atom H membentuk molekul maka akan terjadi hibridisasi orbital atau pencampuran orbital atom Cl. Pada atom Cl dapat dilihat bahwa orbital 3s bercampur dengan orbital 3p (karena berada dalam satu kulit) sebelum membentuk orbital molekul.
            orbital 3Px (2πnb), dan 3Py(2πnb) dari klor tidak bercampur dengan orbital 1s dari hidrogen dan dengan demikian tetap berada dalam keadaan atomik (nonpengikatan). HCl memiliki momen dipol Hδ+Cl δ-.         Bila kedelapan elektron valensi digunakan untuk HCl, maka konfigurasi orbital molekul yang dihasilkan adalah:

(3sCl)2 (σ)2 (3pCl)4



 Atkins, P.W.,1994. Kimia Fisika. Jakarta : Erlangga.
Chang, R.,2005. Kimia Dasar Jilid1. Jakarta : Erlangga.
Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-Soal. Jakarta: UI-Press.
Lichera. 2009. Teori Ikatan Valensi-VSEPR. http://lischer.wordpress.com. (18 April 2010) 
Licherb. 2009. Teori Orbital Molekul. http://lischer.wordpress.com. (18 April 2010) 
Oxtoby, dkk., 2003. Prinsip-Prinsip Kimia. Jakarta : Erlangga.
Wikipedia. 2010. Ikatan kimia. http://id.wikipedia.org. (22 April 2010).




0 komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komen di sini

Google Hacking